Belajar dari Desa Kesiman Bali, Desa Wisata Budaya yang Unik

oleh -4 Dilihat
KIMKARYAMAKMUR.COM, Bali – Kepala Desa Kesiman Kertalangu Bali I Made Suena, ST. kepada rombongan Study Tour Pemdes Pragaan kabupaten Sumenep menjelaskan tentang Desa Kesiman yang memiliki luas wilayah 405 hektar, jumlah penduduk sebanyak 28.799 jiwa, namun demikian ada  warga yang tidak permanen kurang lebih 4.000 jiwa. Desa Kesiman memiliki 11 dusun. Tak ada RT, hanya ada dusun atau banjar pemelihara adat di tingkat dusun. 
Desa Kesiman termasuk daerah yang dibilangnya strategis. Struktur organisasi desa sebagaimana desa di Nusantara, ada Kepala Desa, Sekretaris Desa, Kaur dan kasi serta Kepala Wilayah Dusun. Kaur dan kasi sudah memiliki staf yang membantu kinerjanya dengan penghasilan tetap dan tunjangan tak kurang dari 6 juta sampai 8 juta.
“Desa Kesiman termasuk desa mandiri berdasarkan IDM (Indeks Desa Membangun), nilai IDM-nya 0.9422. Desa mandiri mendapat pagu DD yang lebih tinggi ketimbang yang lain. Bahkan semua desa di Denpasar Bali semua tergolong desa mandiri,” ujar Kepala Desa Kesiman Jumat (24/02/2023) di hadapan rombongan Study dari Pragaan. 
Karena pendapatan yang luar biasa, maka di desa Kesiman orang maunya berdesa di tengah kota. 
“Kebanyakan desa mau jadi kelurahan, tapi di Denpasar justru kelurahan mau jadi desa,” pancingnya memulai pembicaraan.
Beliau jelaskan potensi desa Kesiman yang merupakan kawasan pertanian, pantai Biaung, Muara Tangtu, dan Sumber Mata Air. 
“Kawasan pertanian tetap kita jaga. Ada sungai terpanjang di Bali namanya sungai Ayub. Nah, muara sungai itu ada di wilayah desa kami yang kita beri nama Muara Tangtu. Saat ini masih menjadi obyek wisata secara gratis bagi warga,” ungkapnya.
Selain itu desa Kesiman juga mempunyai sumber mata air yang diambil untuk mata air minum warga. Saat ini sumber mata air tersebut juga digunakan untuk air kemasan yang bernilai ekonomis.
Selain itu juga ada inovasi tata kelola pemerintahan, dimana desa Kesiman punya sistem informasi bernama Sikekal (Sistem Informasi Kesiman Kertalangu). tujuannya untuk memudahkan warga dalam pelayanan administrasi surat menyurat kependudukan. 
“Ini aplikasi masih di tingkat desa belum terintegrasi ke kecamatan. Mekanisme pelayanan melalui Kadus dulu baru ke pelayanan umum, diimput, tak sampai 5 menit sudah pelayanan selesai,” tuturnya menjelaskan alur pelayanan prima.
Untuk kontrol internal Desa Kesiman menyediakan aplikasi E-Link (Elektronik Laporan Informasi Kinerja) yang memiliki fungsi untuk mengukur kinerja perangkat desa dan staf melalui pelaporan kegiatan setiap harinya. 
“Laporan kegiatan staf setiap harinya kami pantau melalu aplikasi ini,” jelasnya.

Tata kelola sistem pemerintahan desa lainnya, Kesiman memiliki MAI Made (Majalah Informasi Masyarakat Desa). Ini program inovasi desa guna memberikan informasi kepada masyarakat terkait pelaksanaan kegiatan desa dalam satu tahun anggaran. 

“Setiap dusun mendapatkan 4 majalah, antara lain diberikan kepada ketua dusun, kepala adat, tokoh adat, kelompok pemuda,” jelasnya.
Untuk pengelolaan BUMDes menggunakan aplikasi berbasis android “Bumdesku” yang dirancang sebagai digital marketing produk yang dijual BUMDes, dimana warga bisa berbelanja secara online dengan sistem pembayaran online, ada juga sistem bon untuk kalangan sendiri.
Produk yang dijual antara lain Jung Kumis, Endek Sekar Kepung, Ayam Betutu, Virgin Coconut Oil, Masker and Coco Kepir.
Potensi bidang kewilayahan desa Kesiman, ada kawasan desa budaya Kertalangu yaitu kawasan yang dipelihara, dilengkapi Gong Perdamaian Dunia, Gong Resto, Warung D’Tukad, Kolam Pancing, Taman Pancasila, dan Area Jogging. 
Juga terdapat wisata edukasi Subak Teba Majalangu. Bahkan bersama lembaga pendidikan Kesiman melakukan  penyusunan kurikulum edukasi subak, dimana anak anak belajar mengenal pertanian kami, agar anak anak sekolah tahu bahwa apa yang mereka makan diwariskan dari pertanian nenek moyangnya yang dikelola dengan era kekinian, selain belajar di kelas anak anak juga belajar di kawasan terbuka dari PAUD sampai SLTP, dan menggunakan kurikulum khusus belajar diluar kelas.
Konsep edukasi yang kita bangun diawali dengan perencanaan dengan pelaku pendidikan dan arsitek profesional.
Untuk menggali inspirasi historis, desa Kesiman memunculkan icon sejarah yaitu patung semut.
“Dulu ada raja yang angkuh dikalahkan oleh semut. Makanya Kami bikin patung semut di 11 dusun. Icon itu diharapkan bisa membangkitkan kegotong royongan membangun desa. Konsep semut ini jadi inspirasi desa.” Jelasnya. (Zbr/Hb).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.