Lomba Baca Puisi Kemerdekaan Gerakkan Semangat Desa

oleh -3 Dilihat
Lomba Baca Puisi Kemerdekaan Oleh Katar Perkasa (Dok.KIM-KMAP)

KIMKARYAMAKMUR.COM, Aeng Panas – Lomba baca puisi bertemakan kemerdekaan bergemuruh di balai desa Aeng Panas Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep, Selasa (25/08/2020).

Kegiatan yang digerakkan Karang Taruna Perkasa ini diikuti oleh berbagai lembaga pendidikan yang ada di Desa Aeng Panas. Mereka mengirim santri terbaiknya berlomba membacakan puisi dengan tema kemerdekaan dan perjuangan.

Kepala Desa Aeng Panas Muhammad Romli, SE yang turut hadir menyaksikan perhelatan lomba mengaku takjub dengan talenta anak-anak yang dengan tegar meneriakkan merdeka lewat puisi.

“Anak anak ini telah memacu semangat patriotisme membangun desa dengan Puisi. Mereka anak-anak yang hebat”, ujarnya sembari khusuk melihat tampilan anak anak peserta lomba.

Ia juga mengatakan bahwa Puisi dapat mengantarkan hayal pada gerbang masa lalu bangsa yang penuh heroisme.

“Mendengar gemuruh puisi kemerdekaan, seperti kita dibawa pada suasana perjuangan pendahulu kita yang berdarah darah membebaskan bangsa dari penjajahan. Kita lalu bisa berbuat apa hari ini?”, tanyanya pada diri dan bangsa ini yang hanya tinggal mengisi kemerdekaan.

Sementara itu Ketua Karang Taruna Perkasa Andi Subahri, SH mengatakan bahwa puisi bisa membuat kehidupan menjadi berjalan lebih pelan dan tidak terburu-buru yang kadang membuat jiwa terguncang.

Inovasi Kecamatan Pragaan

“Dengan puisi, diera yang serba cepat dan terburu-buru ini, kehidupan seolah berjalan lebih pelan, penuh makna dan dapat memberi rasa bahagia”, sambungnya ditengah suasana lomba.

Bahkan menurut Sekretaris Desa (Sekdes) Aeng Panas Zubairi Karim yang turut menyumbangkan membaca Puisi Karya Musthafa Bisri mengatakan bahwa puisi sebagi kritik sosial bisa jadi harapan terakhir untuk merawat peradaban ketika politik dan ekonomi sudah tak mampu memeliharanya.

“Saat yang lain temui jalan buntu, Puisi dapat mengurai, menembus kebekuan problematika bangsa. Puisi dapat menerobos kepekatan sebagai kontrol sosial”, tuturnya usai baca puisi.

Menurutnya, puisi bukan teori praktis yang bisa dipraktekkan seketika. Ia gerak dan digerakkan, hidup dan dihidupkan oleh sesuatu yang tidak disadari namun terjadi.

“Pemdes butuh ruh puisi kemerdekaan untuk menggerakkan SDM desa bergerak dan melompat lebih cepat, guna menyampaikan warganya ke gerbang kesejahteraan”, ujarnya puitis. (Zbr/Bdr).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.