Di Haul Bersama Muslimat NU, KH. Fauzi Ceritakan Ketokohan Kiyai Jailani Brumbung

oleh -8 Dilihat

KECAMATANPRAGAAN.COM,PRAGAAN – Pada acara Haul Kiyai Jailani Nashri Brumbung Prenduan, Selasa (16/01/2024), dalam sambutannya Kiyai Fauzi menceritakan tokoh KH. Jailani Nashri yang sedang dihauli muslimat Pangelen dan warga sekitar.

Kiyai Jailani mondok di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Daerah Lubangsa. Beliau santrinya Kiyai Ilyas Syarqawi. Menurut cerita dari Kiyai Sadakah, sebutnya, sosok Kiyai Jailani diwaktu kelas 1 Muallimin sudah bisa mengarang kitab 4 buah. Saat istirahat Kiyai Jailani tidak keluar kelas, ternyata Kiyai Jailani mengarang kitab, dibuku karangannya tulisan tangannya lengkap dari depan sampai tulisan terakhir, sempurna.
“Jailani, kalau aku punya anak laki, saya akan beri nama anakku dengan kitab karanganmu ini,” ucap Kiyai Sadakah ditirukan Kiyai Fauzi di depan jamaah muslimat.
Saat nyantri di Annuqayah, Kiyai Jailani lebih banyak menjalani masa pengabdian kepada pengasuh ketimbang menuntut ilmu, almarhum bekerja di dapur dalem dengan cuci piring, menguras abu dapur, mengisi air jeding milik pengasuh setiap malam.
Ketokohan Kiyai Jailani sudah nampak sejak di pondok, beliau selalu diminta oleh Kiyai Ilyas gurunya untuk memimpin pembacaan shalawat saat ada acara kondangan di masyarakat.
“Jika undangan masyarakat berupa Isra’ Mi’raj, maka yang disuruh menjadi penceramah oleh Kiyai Ilyas adalah KH. Jailani,’ sebutnya.
Bahkan KH. Habibullah Rais, Pengasuh PP. Al Is’af Kalaba’an Guluk!-Guluk pernah mengatakan berguru ilmu Faraid kepada Kiyai Jailani.
“Orang yang alim di daerah Brumbung ada dua, yang pertama Kiyai Jailani, yang kedua Kiyai Khazin, itu alim nak,” ucap KH. Habibullah Rais ditirukan Kiyai Fauzi.
Setelah dari Annuqayah, Kiyai Jailani pulang ke kampung halamannya di Brumbung, mengamalkan ilmu yang didapat dari Annuqayah, dengan mendirikan masjid dan madrasah. Gaya dakwah yang dilakukannya tidak hitam putih, bukan halal haram. Kalau Kiyai Jailani mendapati ada warga yang belum shalat, beliau tak pernah marah.
Dakwahnya menggunakan gaya yang lembut, yaitu dakwah bilhal dengan mencukupi kebutuhan mendasar warga masyarakat terlebih dahulu.
Dahulu kala, masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih untuk dibuat minum, mandi, wudhu, melarat sekali. Warga harus antre di depan masjid. Akhirnya Kiyai Jailani membuat sumur dua buah untuk warga, yang dua lalu disatukan untuk kemudian dialirkan ke daerah Pangilen.
“Hebatnya beliau, secara akal tak mungkin air mengalir ke Pangilen, karena daerahnya dataran tinggi. Sekarang pakai cibel saja tak angkat, tapi ditangan Kiyai Jailani air tetap mengalir sempurna,” ucapnya.
Lalu dibuatkan dua taman disana. Kiyai Jailani lalu beli mesin konor air sendiri dan air dibuat gratis bagi warga masyarakat.
Bahkan di daerah Ruberuh Prenduan, air aliran dari usaha Kiyai Jailani ini dibuat tandon disana, dialirkan ke jeding rumah warga.
Setelah terpenuhi kebutuhan warga, baru beliau mengadakan perkumpulan laki dan perempuan, melakukan jamaah isyak ditempat dimaksudkan agar Kiyai Jailani bisa mengajari wudhu dan shalat warga masyarakat. Kiyai Jailani mendirikan perkumpulan Nahdliyyin bagi laki-laki, dan bagi perempuan bernama Nahdliyyat.
KH. Aminuddin Jazuli Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan yang juga Mantan Rais MWC NU Pragaan mengatakan bahwa ada tiga ulama yang mendirikan Nahdlatul Ulama di Pragaan, yaitu KH. Jailani, KH. Abdurrahim, dan KH. Ali Bakri.
“Bukti bahwa beliau NU, kumpulannya dinamakan Nahdliyyin Nahdliyyat, baru belakangan berubah nama Mustaghfirin Musthaghfirat oleh penerusnya KH. Adnan,” sambungnya.
Diceritakan Kiyai Jailani banyak mengarang kitab. Kitabnya banyak ditemukan di daerah Bataal, Lengkong Bragung, dan juga di Almanar. Setiap kumpulan diajarkan kitab amaliah sehari-hari karangan beliau. Beliau juga dikenal sebagai kiyai yang paling sabar.
Kita semua, sambung Kiyai Fauzi, ingin mendapatkan hikmah dari jejak perjalanannya, satu-satunya pendidik zaman dahulu yang ada di sekitar Brumbung, yang dilanjutkan oleh penerusnya guna mengajari anak cucu kita.
“Kita jangan lupa pada akar besarnya Kiyai Jailani. Kita jangan jadi kacang lupa kulitnya. Kulit Jangan lupa pada bijinya. Yang banyak, warga masyarakat ingat kulitnya lupa bijinya,” sindirnya.
Kalau lupa pada gurunya, sebutnya, tak akan barokah ilmu kita, dunia kita, hidup kita. Beliau minta agar setiap tahun sekali selalu diadakan Haul KH. Jailani untuk mengenang jasa jasa beliau. (Zbr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.