Mengenal Adat Bali dari Sang Pemandu Wisata Mbak Liluh yang Cantik

oleh -3 Dilihat
KIMKARYAMAKMUR.COM, Bali – Sepanjang perjalanan, rombongan Study Tour Pragaan ditemani oleh sang pemandu wisata berpengalaman asli dari Bali. Seorang wanita cantik bernama Liluh, panggilan Luhnik, nama di ID Card tertulis Liluh Ningga Apriani. 
Mbak Liluh nampak sabar dan telaten menemani perjalanan rombongan dengan segala romantika dan dinamikanya. Suasana akrab dan gelak tawa kerapkali berkecamuk dalam perjalanan, terutama saat bertukar istilah istilah bahasa daerah Bali dan Madura yang kadang membuat geli namun penuh semangat.
Mbak Liluh mengenalkan banyak bahasa Bali yang unik bagi  orang Madura, Jegek maketek ketek artinya cantik sekali. Cowok dibali dipanggil Bagus, kalau Cakep disebut Kentir, Pipis artinya uang, mau pipis artinya mau minta uang, sementara pipis di Jawa dikenal aktifitas kamar kecil.
Selama perjalanan menuju desa Kesiman satu setengah jam, mbak Liluh juga mengenalkan kata “Berzinah” yang artinya “banyak uang”. Tak luput yang bikin geer rombongan saat dikenalkan kata “ngaceng” yang berarti makan, sementara “ngaceng” dalam arti bahasa Madura berdiri tegak atau sering dikonotasikan pada aktifitas alat kelamin saat tegak berdiri. Beruntunglah Indonesia memiliki bahasa pemersatu bahasa Indonesia, sehingga perbedaan menjadi hazanah kebahasaan yang saling melengkapi dan kaya budaya. 
Beberapa hal yang diingatkan mbak Liluh ketika ada di Bali untuk tidak jauh jauh memisahkan diri dari rombongan. 
“Perkembangan di Bali dari tahun ketahun hampir selalu ada perubahan. Sehingga jangan jauh dari rombongan, takut ketinggalan,” ujarnya.
Kedua, Liluh sarankan agar barang bawaan selalu dijaga dengan baik, jangan hilang atau tertinggal. 
“Dimulai dari ketinggalan baru hilang,” ujarnya.
Ketiga, Liluh sampaikan kebiasaan warga Bali yang sering dijumpai melakukan aktifitas sesajen sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagai sarana memohon pengampunan. 
Ada sesajen yang yang diletakkan diatas ada yang dibawah. Yang diletakkan diatas, maksudnya dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 
“Kalau yang diletakkan dibawah maksudnya dipersembahkan pada makhluk yang ada di bumi. Disebut Butakala, atau Batarakala yaitu makhluk yang derajatnya ada dibawah, bersama manusia” ungkapnya. 
Berbagai aktifitas sesajen itu, katanya, bukanlah sebagai bentuk penyembahan kepada sang makhluk, melainkan hanya bentuk penghormatan. 
Liluh sampaikan konsep keseimbangan yang dikenal di Bali dengan istilah Trihitakala, tiga hubungan yang harmonis. Pertama, Parahyangan, yaitu hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, diekspresikan dengan sesajen. Kedua, bernama Pawongan, hubungan harmonis antar sesama manusia. Adapun yang ketiga disebut Pelemahan, yaitu konsep keseimbangan untuk menjaga hubungan manusia dengan alam.
“Banyak pohon di Bali diberi sarung, dilindungi, tidak ditebang, itu konsep keseimbangan alam, agar pohon menjadi penyangga air, air tentu untuk kemakmuran kehidupan. Bahkan pohon Beringin di Bali dikeramatkan,” ujarnya. (Zbr/Hb).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.