Ibu Kades Aeng Panas Ajak Anggota Arisan Perempuan Belajar dari Ketangguhan RA. Kartini

oleh -8 Dilihat
Kumpulan Rutin Mingguan Arisan PKK, Muslimat dan Kaum Perempuan Di Kediaman Kades Aeng Panas

Aeng Panas – Dalam mengarungi era globalisasi ini, perempuan desa dituntut untuk dapat beradaptasi dengan perkembangan agar tidak terlindas roda angkuh peradaban.

Pernyataan itu disampaikan Bu Kades Aeng Panas dalam acara rutin arisan PKK Muslimat Desa Aeng Panas yang dilaksanakan setiap minggu sekali di rumah Kades, hari Ahad.

Seperti Ahad sore (08/03/2020), Ibu Kades Busiyah Romli mengajak warga arisan untuk belajar pada ketangguhan RA. Kartini.

“Beliau, Ibu Kita Kartini adalah seorang pejuang wanita, yang memperjuangkan hak-hak perempuan yang dikerdilkan karena dianggap lemah, tidak bisa apa-apa, dan tidak berdaya dibandingkan kaum pria”, ujarnya mantap.

Oleh karena perjuangan Kartini, sambungnya, kini para kaum wanita dapat bersekolah dan mencapai prestasi seperti laki-laki. Bisa jadi pejabat pemerintahan bahkan Presiden, katanya.

Nabi juga sangat mengapresiasi wanita, tambahnya, Siti Khadijah itu adalah wanita pengusaha kaya, yang mempunyai usaha dagang dalam luar negeri (Mekah dan Syam). Khadijah dapat dukungan dari nabi, bahkan nabi menikahinya.

“Kita kumpul di arisan ini agar perempuan tidak selalu terbelenggu dalam rutinitas rumah tangga saja yang kadang membeku fikiran kita. Ayoo..bangkit..! berdayakan potensi diri, wujudkan mimpi, kebutuhan dan prestasi kita, aktualisasikan nilai-nilai kreatifitas kita melalui perkumpulan. Desa kita harus bangkit”, ujarnya membangkitkan semangat.

Inovasi Kecamatan Pragaan

Disadari atau tidak, sambungnya, secara statistik jumlah perempuan jauh lebih banyak dari lelaki, maka kita perempuan perlu diberdayakan sebagai subyek pelaku pemberdayaan desa, bukan semata obyek dalam pembangunan desa.

Beliau terus membangun kesadaran anggota dengan mengetengahkan sabda nabi Muhammad, “Wanita itu tiang negara apabila perempuan baik, maka baiklah negara, dan apabila perempuan itu rusak maka rusaklah negara itu”.

Terakhir beliau berkata, saya baca buku “laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya, jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali”

Acara mingguan tersebut ganti-ganti acaranya, tahlil, shalawat, yasinan dan ditutup dengan arisan yang diikuti oleh istri perangkat, PKK, Kader Posyandu, istri Ketua RT-RW, muslimat NU dan unsur lainnya. (Zbr/Badrul/KIM-KMAP).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.